Oleh: Abd. Rahman

Pengajar Politeknik Wiratama Maluku Utara

______________

DI dalam Al-Qur’an, ada sebuah maklumat agung yang menjadi “ruh” setiap kali Ramadan tiba. Kalimatnya begitu akrab di telinga: Kamā kutibaalallażīna min qablikum. Sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu.

Frasa ini adalah proklamasi besar tentang kesetaraan. Tuhan sedang memberi tahu kita satu hal: dalam urusan perut yang keroncongan, manusia abad digital ini tidak ada bedanya dengan generasi manusia pertama yang baru belajar membedakan mana buah hutan yang manis dan mana yang beracun.

Kita juga setali tiga uang dengan para buruh pengangkut batu piramida yang barangkali sariawan karena terik gurun, hingga generasi kakek buyut kita yang jauh lebih tangguh mencangkul sawah sambil menahan lapar tanpa bantuan traktor.

Teknologi boleh melompat dari penemuan roda ke penemuan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence). Manusia boleh saja berpindah dari tungku kayu ke kompor induksi. Namun, untuk urusan mendisiplinkan “binatang buas” di dalam diri bernama nafsu, metodenya tetap sama sejak ribuan tahun lalu: puasa.

Luar biasa. Di titik ini, kita semua adalah saudara dalam lapar.

Bayangkan, rasa haus yang mencekik tenggorokan orang-orang zaman dulu saat melintasi gurun, memiliki esensi yang sama dengan rasa haus yang dirasakan seorang kurir paket yang terjebak macet di bawah terik matahari hari ini. Penderitaan lambung yang kosong adalah bahasa universal yang meruntuhkan segala kasta, pangkat, dan kecanggihan gawai.

Inilah inti dari min qablikum. Kita sedang melakukan “napak tilas” spiritual yang sudah teruji lintas peradaban.

Di sinilah letak sindiran halus Tuhan untuk ego manusia modern yang merasa paling sibuk dan paling hebat. Kita diingatkan bahwa privilese teknologi tidak membuat kita lebih sakti dalam urusan moral. Bahkan, ironi ini sering kali terekam jelas di balik gedung-gedung tinggi yang dihuni para pemegang kuasa.

Di bulan yang suci ini, masih saja kita temukan oknum pemegang stempel sakti yang hobinya justru “memuasakan” hak-hak orang di bawahnya.

Lucu sekali melihat mereka. Mereka begitu khusyuk menahan lapar sejak subuh, tapi tangan mereka begitu lincah menahan hak orang lain melampaui batas magrib. Seolah-olah menunda pembayaran gaji, honor, atau tunjangan adalah rukun puasa tambahan yang baru saja turun dari langit birokrasi.

Mereka berpuasa dari nasi, tapi “berbuka” dengan menahan hak-hak yang seharusnya sudah ditunaikan saat keringat si penerima belum lagi kering. Mereka lupa, bahwa di hadapan asam lambung jam empat sore, gelar mentereng dan kursi empuk jabatan tidak bisa menjadi obat maag.

Kekuasaan yang setebal tumpukan berkas itu mendadak luluh lantak hanya oleh sebutir kurma dan seteguk teh manis.

Namun, memang ada satu perbedaan mencolok antara kita dan “orang-orang sebelum kamu”.

Dulu, tantangan orang berpuasa adalah “ketiadaan”. Mereka berjuang melawan sepi dan keterbatasan makanan. Sementara kita? Tantangan kita adalah “kelebihan”. Kelebihan informasi, kelebihan tontonan, dan kelebihan gangguan di layar genggam. Bahkan kelebihan pilihan jenis takjil untuk berbuka.

Jika puasa orang terdahulu adalah puasa melawan rasa lapar yang sunyi, maka puasa kita adalah puasa melawan kebisingan digital. Kita menahan lapar sembari diserbu jutaan gambar makanan di linimasa. Kita menahan dahaga sembari jempol kita dipaksa menari di tengah godaan gosip, debat kusir nirfaedah, hingga keinginan memamerkan privilese yang konyol.

Memahami frasa min qablikum seharusnya membuat kita lebih rendah hati. Kita bukan generasi pertama yang menderita karena menahan lapar. Kita hanyalah barisan terbaru dalam pawai panjang sejarah manusia yang sedang mencoba menjadi “lebih manusia”.

Puasa adalah cara Tuhan mengatakan: secanggih apapun duniamu, sepadat apapun jadwalmu, dan setinggi apapun pangkatmu, kamu tetaplah hamba yang butuh sebutir kurma untuk tetap bertahan hidup. Sama seperti kakek buyutmu, dan sama seperti mereka yang akan lahir seribu tahun lagi.

Saat azan magrib berkumandang nanti, ingatlah bahwa kita sedang berbuka bersama sejarah. Kita sedang merayakan kemenangan kecil yang sama dengan yang dirayakan manusia-manusia ribuan tahun lalu. Kemenangan atas diri sendiri—termasuk kemenangan atas ego untuk tidak menahan apa yang sudah menjadi hak sesama. (*)