Oleh: Ramli Yusuf
Dosen IAIN Ternate
______________
PUASA tidak sekadar dimaknai sebagai perintah untuk tidak makan dan minum mulai dari terbitnya fajar hingga terbenam matahari. Tetapi juga menyasar segala bentuk aktivitas atau perbuatan manusia yang cenderung mengedepankan hawa nafsu mengakibatkan batalnya puasa, maka semua itu dilarang. Selainkan itu, puasa sebenarnya punya fungsi menata kelola hati agar manusia mampu mengendalikan diri dari godaan tercela. Meminjam istilah Ari Ginanjar disebut manajemen qalbu. Hati ibarat mata air yang menjadi sumber kehidupan manusia, maka kita harus selalu menjaga, merawat dan memelihara dengan baik supaya tidak tercemari oleh polusi lingkungan. Apabila hati itu bersih akan mampu menuntun kita ke arah kebaikan.
Begitu pula sebaliknya, jika hati menjadi kotor dapat berpengaruh terhadap tingkat keburukan perilaku seseorang. Karena itu, puasa adalah sarana untuk membersihkan dan memanej fungsi hati. Apalagi hati orang beriman tentu setiap saat tidak terlepas dari ujian dan godaan yang datang silih berganti. Mulai dari cobaan paling ringan hingga yang terberat. Apakah dia sanggup menaklukan tantangan atau malah menjadi budak hawa nafsu. Dan kita tahu perang paling berat dihadapi orang beriman adalah bagaimana melawan hawa nafsu.
Kita manusia mungkin sering cepat lupa, ketika diuji oleh Tuhan dengan kesusahan, kemiskinan, dan kelaparan. Mereka sangat tangguh menghadapi dengan sikap sabar dan tabah. Tetapi begitu diuji melalui harta kekayaan, pangkat, jabatan justru mudah sekali jatuh ke lembah kehinaan. Tampaknya mereka tidak mampu menahan diri, bahkan menggunakan strategi dengan menghalalkan segala cara untuk saling menjatuhkan demi memperoleh kekuasaan. Meski pola rekrutmen karir kepemimpinan diketahui terindikasi KKN karena tanpa melalui sistem meritokrasi yang benar-benar berlaku fair dan adil. Namun itulah magnet kekuasaan mempengaruhi birahi manusia masuk dalam jebakan Batman. Realitas ini sulit dipungkiri dan mengkonfirmasi adanya campur tangan Allah membolak balik hati manusia sehingga berubah begitu cepat.
Untuk menguji sejauh mana konsistensi ketulusan hati dengan amal perbuatan tergantung seberapa besar kualitas ketaqwaan yang memiliki presisi tinggi. Kata Nabi; “Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh terdapat segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuh. Dan jika ia rusak, maka rusak pula seluruh tubuh. Ketahuilah, ia adalah hati.” (HR Buchari Muslim). Di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat. “Mens Sana in Corepore Sano,” tulis penyair Romawi Jovenal, menekankan perlunya keseimbangan kebutuhan fisik dan mental.
Segumpal daging yang dimaksud Nabi adalah hati. Proses menciptakan hati yang sehat membutuhkan pendekatan mental-spritual tanpa mengabaikan pemenuhan tuntutan fisik material. Puasa harus benar-benar berfungsi menjadi media edukasi bagi kita untuk membersihkan diri dan mencerahkan hati. Sosok kepribadian hati orang beriman tidak mengandalkan gaya sophisticated supaya terlihat anggun dan mempesona menarik perhatian publik. Karena dia pasti takut jangan sampai hatinya dikotori oleh perilaku sombong dan riya meski tidak bermaksud dipuji orang.
Posisi keberimanan benar-benar sudah on the track selalu berada di jalur yang benar. Hati mereka seteguh karang di laut dihantam ombak dan badai sedahsyat apapun tak lagi goyah. Karakteristik perilaku mereka dihiasi dengan sholat, ruku, sujud, dan zikir. Tautan hati kepada Sang Pencipta inilah menjadi kunci kebahagiaan. Sebab puncak tertinggi kebahagiaan diri orang beriman adalah menegakan yang makruf dan mencegah kemungkaran. Ekspresi ini dikuti oleh perbuatan hingga titik paling sederhana adalah mengangkat duri di jalan mencerminkan ciri orang beriman.
Ramadhan membersamai rasa antar sesama manusia untuk merajut dan mengakrabkan kembali hubungan persaudaraan. Agar problem disparitas atau kesenjangan sosial antara Si kaya dan Si miskin dapat teratasi melalui sikap peduli untuk berbagi kebahagiaan. Kesetaraan derajat kita merupakan titik temu kemanusiaan, bahwa kewajiban berpuasa menahan lapar dan dahaga bukanlah merupakan prototipe kehidupan orang miskin tetapi juga orang kaya. Jadi sesungguhnya ungkapan syair lagu Ambon Ale Rasa Beta Rasa turut dinikmati pula oleh kaum borjuis.
Puasa mengajarkan kita bagaimana merajut asa memendam amarah untuk menuju harapan mencapai puncak kebahagiaan tertinggi yaitu taqwa. Manifestasi ketaqwaan juga bersifat distributive sehingga sumber-sumber penghasilan tidak hanya dinikmati sendiri. Dalam teori ekonomi, prinsip trickle down effect harus dipakai supaya kekayaan tidak dimonopoli kaum kapitalis saja, tetapi mendorong pemerataan konsumsi menetes ke bawah sehingga hasil dapat dinikmati pula bagi mereka yang miskin. Sebab nilai ketaqwaan tidak bisa dicapai sementara di samping kiri dan kanan kita masih terdapat suara tangisan anak yang menangis karena faktor kelaparan.
Membagi kebahagian merupakan bentuk kesalehan sosial untuk menegasikan bahwa parameter iman hanya bisa diukur melalui amal kebaikan. Hal ini menunjukan naik turunnya iman seseorang sangat tergantung pada perbuatan yang dilakukan. Karena itu hati yang tulus dan suci dijadikan sebagai jembatan untuk menghubungkan aktivitas sosial manusia menuju jalan siratul mustaqim. Jalan ini menggambarkan ciri utama orang bertaqwa, maka apabila diperdengar nama Allah hatinya bergetar, tenang dan semakin bertambah imannya, (QS; Al-Anfal ayat 2).
Kebahagiaan adalah ungkapan kata hati yang relatif sulit diukur berdasarkan pandangan masing-masing orang. Artinya sangat kompleks dan beragam karena berbeda cara orang mendefenisikan kebahagiaan. Ada orang berpendapat ukuran hidup bahagia harus bergelimang dengan harta kekayaan yang melimpah. Sementara mereka yang berpandangan berbeda justru mengatakan kebahagian baru akan dirasakan bila punya anak. Untuk apa memiliki harta banyak tetapi tidak menghasilkan turunan.
Bahkan ada pula yang lebih ekstrim menilai ukuran kebahagiaan tidak dari sisi materi. Seperti filosofi hidup orang Jawa mangan ora mangan yang penting ngumpul bersama. Apapun makna dan bentuk kebahagian itu dipahami secara berbeda masih menyisakan multi tafsir. Namun yang menjadi masalah ketika kebahagiaan itu tidak berbagi kepada orang lain. Paling tidak muncul rasa empati dan peduli sesama manusia. Jika orang sedang dalam keadaan susah dan memerlukan bantuan harus dibantu. Orang yang dibantu pun tentu merasa senang dan bahagia menerimanya.
Jadi sebenarnya membagi kebahagian adalah tautan rasa solidaritas sosial yang terus mentradisi setiap datangnya bulan Ramadhan. Perilaku ini terlihat ramai ketika menjelang batal puasa atau menyambut lebaran. Sesama tetangga saling membagi takjil sebagai bentuk ungkapan rasa syukur atas nikmat Allah yang telah diberikan. Jangan mendustai hati saat jemari ini masih dapat bergerak untuk membantu. Dan kebahagian tidak bisa diukur dari besar atau kecilnya jasa yang diterima. Sekalipun hanya berupa untaian doa yang dipersembahkan. Marhaban ya Ramadhan. (*)

Tinggalkan Balasan