Oleh: Riyanto Basahona
____________
JUDUL ini terdengar kejam. Namun ia lahir dari kenyataan yang lebih kejam: pendidikan yang seharusnya menyelamatkan masa depan, justru sering menjadi sumber penderitaan. Bukan karena ilmu itu salah, melainkan karena sistemnya menekan, mahal, dan kerap mengabaikan sisi kemanusiaan.
Sejak duduk di bangku sekolah dasar hingga perguruan tinggi, pendidikan menuntut pengorbanan yang nyata. SPP, seragam sekolah, buku dan pena, transportasi, uang kos, dan biaya makan menjadi daftar panjang yang harus ditanggung keluarga. Semua itu dijalani dengan satu harapan: ada cahaya di ujung jalan bernama “masa depan lebih baik”.
Namun, realitas sering berkata lain. Pendidikan hari ini berubah menjadi lomba bertahan hidup. Siapa yang kuat secara ekonomi, ia melaju. Siapa yang lemah, ia tertinggal. Sekolah dan kampus yang seharusnya menjadi ruang aman justru berubah menjadi ruang tekanan nilai harus tinggi, tugas harus selesai, biaya harus lunas, tanpa bertanya: apakah semua anak mampu menanggung beban itu?
Kasus yang belakangan viral tentang seorang anak yang tertekan karena tidak mampu memenuhi tuntutan pendidikan yakni membeli buku untuk keperluan belajarnya menampar nurani kita bersama. Peristiwa itu bukan sekadar tragedi pribadi, melainkan alarm sosial. Ia menunjukkan bahwa pendidikan bisa menjadi mesin tekanan psikologis ketika empati tidak hadir, ketika negara dan institusi hanya sibuk dengan administrasi dan data fiktif, bukan dengan manusia.
Negara selalu menggaungkan bahwa pendidikan adalah hak setiap warga negara. Namun di lapangan, hak itu terasa seperti barang mewah. Bantuan sering tidak tepat sasaran, birokrasi berbelit, dan solusi yang ditawarkan hanya bersifat sementara. Negara hadir di pidato, tapi absen di penderitaan rakyat kecil.
Lebih menyakitkan lagi, kegagalan sistem ini sering dibungkus dengan kalimat klise: “Kurang berjuang”, “Tidak cukup kuat mental”, atau “Memang tidak mampu”. Padahal yang gagal bukan anaknya, melainkan sistem yang tidak ramah bagi mereka yang miskin dan lemah.
Pendidikan seharusnya membebaskan, bukan menekan. Ia seharusnya memberi harapan, bukan ketakutan. Jika hari ini ada anak yang merasa masa depannya gelap hanya karena tak sanggup membeli buku atau membayar biaya sekolah, maka kita harus jujur mengakui ada yang salah dalam cara kita mengelola pendidikan.
Judul “Pendidikan Membunuhmu” bukan seruan putus asa, melainkan kritik keras. Kritik bahwa pendidikan telah kehilangan ruh kemanusiaannya. Kita terlalu sibuk mengukur angka dan akreditasi, sampai lupa mengukur luka batin peserta didik.
Sudah saatnya pendidikan dikembalikan pada makna aslinya: memanusiakan manusia. Sekolah dan kampus harus menjadi tempat aman bagi anak dari segala latar belakang ekonomi. Negara tidak boleh hanya hadir sebagai regulator, tetapi sebagai pelindung yang memastikan tidak ada satu pun anak merasa sendirian menghadapi tekanan hidup demi sebuah ijazah.
Karena sejatinya, pendidikan tidak boleh menjadi alasan seseorang kehilangan harapan. Pendidikan seharusnya menjadi tangan yang mengangkat, bukan beban yang menekan. Jika tidak, maka kita bukan sedang mencerdaskan kehidupan bangsa, melainkan perlahan mematahkan jiwa generasinya.
Dan ketika itu terjadi, kita tidak bisa lagi menyalahkan anak-anak. Kita harus berani menyalahkan sistem dan peran Pemerintah kita. (*)

Tinggalkan Balasan