Oleh: Tendri Rudin

______________

SAAT ini yang terjadi di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Kota Ternate yaitu krisis kepemimpinan. IMM sebagai organisasi otonom Muhamadiyah yang berorientasi pada intelektualitas, religiusitas dan humanitas yang bertujuan untuk membentuk pribadi mahasiswa yang memiliki kematangan pengetahuan yang lahir sebagai bentuk gagasan kritis pada kepekaan sosial yang terjadi baik di lingkungan masyarakat maupun organisasi secara khusus. Akan tetapi yang dialami sekarang ialah kesadaran ideologis dalam rangka mewujudkan tujuan organisasi secara umum yang minim sehingga membuat IMM jauh dari tujuan yang diharapkan secara bersama.

Krisis-krisis seperti ini hadir bukan semata-mata karena potensi kader yang menurun, melainkan tidak hadirnya tindakan strategis dalam mendukung potensi kader. Tindakan strategis yang dimaksud ialah proses kepemimpinan yang melahirkan program kerja yang tidak hanya berlayar di ruang-ruang diskusi, akan tetapi hadir dalam bentuk nyata dampaknya dirasakan oleh seluruh kader secara keseluruhan.

Dinamika seperti ini bisa saja disebabkan oleh proses kepemimpinan yang kurang matang dan atau pemimpin yang tidak sadar akan tugas dan fungsinya dalam menjalankan roda-roda organisasi. Yang menjadi ketakutan ialah jangan sampai pemimpin kita hanya berfokus pada proses pengembangan potensi individualistik tanpa memperhatikan kepentingan organisasi secara umum.

Lebih parahnya, para pemimpin-pemimpin Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Kota Ternate gagal menjaga dan menghidupkan tradisi intelektual. Diskusi dan kajian kehilangan daya kritis, riset diabaikan, dan keberanian untuk berbeda pendapat dianggap ancaman. Dalam situasi seperti ini, IMM tidak kekurangan kader, tetapi kekurangan pemimpin yang berani berpikir dan bersikap.

Kepemimpinan seharusnya bersifat kolektif dan beretika justru menjadi jebakan dalam elitisme, konflik kepentingan, dan ego personal. Nilai-nilai keislaman serta kemuhammadiyahan hanya dijadikan jargon, bukan pedoman etis dalam memimpin.

Lebih jauh lagi, para pemimpin IMM gagal mengontekstualisasikan gerakan dengan realitas Maluku Utara. Persoalan masyarakat pesisir, krisis lingkungan, dan ketimpangan sosial tidak dibaca sebagai medan dakwah dan perjuangan. IMM pun menjauh dari rakyat, bukan karena ideologinya lemah, tetapi karena para pemimpinnya kehilangan keberanian untuk berpihak.

Karena itu, kebangkitan IMM di Kota Ternate tidak ditentukan oleh perubahan struktur, melainkan oleh keberanian para pemimpinnya untuk melakukan otokritik. Tanpa kesadaran ideologis, penguatan tradisi intelektual, kepemimpinan yang beretika, dan keberpihakan sosial yang nyata, para pemimpin IMM justru menjadi bagian dari krisis itu sendiri. (*)