Oleh: Riski Ikra
Ketua Sektor FIC UMMU

_____________

ADA sebuah cerita pada tahun lalu, tepat pada 9 Januari 2025, di tengah hiruk-pikuk organisasi yang terus diperhadapkan pada tantangan zaman, lahir sebuah nama yang tak menjanjikan kenyamanan. Ia bukan manusia, melainkan sebuah wadah literasi yang memilih jalan sunyi: Membaca, Menulis, dan Melawan. Namanya mungkin terdengar asing bagi sebagian orang, Forum Insan Cendikia (FIC). Di dalamnya terkumpul individu-individu terideologis kritis yang tak puas jadi penonton di semua ketimpangan sosial, dan tak cukup diam hanya dengan berdiskusi tanpa ada keberpihakan. Forum Insan Cendikia lahir dengan namanya yang cukup unik prespektif penulis “Forum” yang diartikan dengan: (golongan, tempat, kumpulan.) dan “Insan” dalam prespektif Islam ialah (Khalifah, manusia,) sedangkan “Cendikia” (pendidik, pemikir.) Secara garis merahnya ialah: golongan manusia intelektual terdidik kritis. Forum Insan Cendikia yang biasa disingkat FIC ini bukan untuk menambah daftar organisasi, melainkan untuk menguji satu hal penting: apakah gagasan masih dapat menjadi alat perlawanan.!

Kini sudah memasuki satu tahun FIC di mulai dari 9 Januari 2025, memasuki 9 Januari 2026 sungguh usia yang belum matang, namun dalam prespektif penulis, gerakan Forum Insan Cendikia (FIC) bukan wadah main-main, meski FIC memiliki anggota dari background yang berbeda-beda, namun kepatuhan dan komitmen literasi terus hadir tanpa henti,  penguatan literasi “Baca, Tulis, Lawan” menjadi pijakan gerakan spirit berkarya menuntut semua anggota FIC bukan hanya berdiskusi, tetapi menulis tentang hati yang tak betah melihat ketidakadilan, seperti dalam  prespektif Desmod Tutu, yaitu: “Jika kamu bersikap netral dalam situasi ketidakadilan, maka kamu telah memilih berada di pihak penindas.” Dalam pandangan ini bila dikaji pada konteks literasi Indonesia sungguh kita telah ditindas dengan sistem pendidikan di mana guru hanya hadir saat semester, atau hadir bukan untuk mengajar tetapi memenuhi absensi semata. Dari sinilah penyadaran akan pentingnya literasi untuk menjawabnya.

Sebagai wadah literasi di Maluku Utara, Forum Insan Cendikia bergerak di ranah kepenulisan, riset, dan sosialisasi pendidikan. Aktivitas tersebut tak berhenti pada produksi teks semata, melainkan berusaha melahirkan karya-karya buku yang merekam dan mengkritisi dinamika di tengah problem sosial, politik, dan ancaman ekologis di Maluku Utara. Menulis, bagi FIC, bukan sekadar aktivitas intelektual, melainkan bagian dari tanggung jawab sosial.

Sejak awal, FIC tidak pernah menjanjikan keseragaman pikiran. Ia bukan ruang ibadah ideologis yang menuntut kepatuhan tunggal, melainkan forum dialektika kritis yang mempertemukan beragam pandangan tentang keadilan sosial, politik, lingkungan, dan nasib rakyat Maluku Utara. Di dalamnya, perbedaan tak dianggap sebagai ancaman, melainkan sebagai kondisi objektif dari sebuah gerakan yang hidup. Sejarah telah berulang kali membuktikan, gerakan yang takut berbeda biasanya lebih cepat membusuk daripada yang berani berdebat.

Satu nafas perjuangan yang sama itu tampak dalam sikap FIC membaca realitas Maluku Utara. Di tengah ekspansi industri ekstraktif, perampasan ruang hidup, krisis ekologis, serta ketimpangan sosial yang terus marak, FIC memilih untuk tidak diam. Terlepas dari perbedaan ideologi di dalamnya, ada kesepahaman dasar yang dijaga bersama: ketidakadilan harus dilawan, dan keberpihakan pada rakyat kecil tidak bisa ditawar. Inilah titik temu yang membuat perbedaan ideologi tidak berubah menjadi perpecahan arah.

Satu tahun perjalanan FIC juga menjadi cermin bahwa gerakan tidak selalu berjalan lurus. Ada langkah yang tertatih, program yang belum maksimal, serta konsolidasi yang masih rapuh. Mengakui kenyataan ini bukan tanda kelemahan, melainkan bentuk kejujuran politik. Gerakan yang menolak kritik internal biasanya hanya sibuk memoles citra, bukan memperbaiki arah. Dalam konteks ini, FIC masih memiliki pekerjaan rumah besar: memperkuat basis, memperluas kerja-kerja advokasi, dan memastikan diskursus tak berhenti di ruang diskusi semata.

Hal lain yang patut dicatat, FIC berusaha menjaga jarak dari jebakan klasik organisasi muda: merasa paling sadar dan paling benar. Kesadaran ideologis yang tidak disertai kerja nyata hanya akan melahirkan elitisme gerakan. Dalam satu tahun ini, FIC diuji untuk terus membumikan gagasan, menjahit teori dengan praktik, serta memastikan gerakan tetap menyentuh realitas sosial, bukan sekadar memuaskan ego intelektual anggotanya.

Olehnya ke depan, tantangan FIC justru akan semakin berat. Perbedaan ideologi akan terus ada, bahkan mungkin semakin tajam. Tekanan eksternal, kooptasi kepentingan, dan godaan pragmatisme akan datang silih berganti. Pada titik inilah nafas perjuangan yang sama harus terus dijaga. Bukan dengan meniadakan perbedaan, melainkan dengan memastikan bahwa perbedaan tidak mengkhianati tujuan bersama.

Satu tahun FIC Malut bukanlah soal perayaan usia, melainkan pembuktian arah. Selama perbedaan ideologi tetap dipertautkan oleh komitmen terhadap keadilan dan keberpihakan pada rakyat tertindas, FIC masih layak disebut sebagai gerakan. Sebab pada akhirnya, sejarah tak pernah mencatat siapa yang paling keras berdebat, tetapi siapa yang tetap berdiri ketika perjuangan menuntut konsistensi. (*)