Oleh: IMMawati Pinky Sapulette

_____________

ORGANISASI kemahasiswaan ekstra kampus yang tergabung dalam Cipayung Plus sejak awal diposisikan sebagai pilar moral dan intelektual gerakan mahasiswa. Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah(IMM), sebagai bagian dari tradisi tersebut, tidak hanya memikul tanggung jawab kaderisasi internal, tetapi juga kewajiban moral untuk hadir di ruang publik sebagai kekuatan kritis. Tujuan IMM untuk melahirkan akademisi Islam berakhlak mulia, serta trilogi gerakan: keagamaan, kemahasiswaan, dan kemasyarakatan merupakan fondasi ideologis yang semestinya tercermin dalam agenda nyata dan berkelanjutan.

Namun, realitas yang tampak pada kepengurusan PC IMM Kota Ternate periode berjalan justru menunjukkan gejala sebaliknya. Sejak pelantikan ketua umum dan jajaran pengurus hingga kini, denyut gerakan IMM nyaris tidak terlihat secara signifikan di ruang publik mahasiswa. Ketiadaan agenda substantif seperti diskusi rutin, forum group discussion (FGD), kajian ideologis, peringatan Milad Muhammadiyah, penguatan kaderisasi, hingga forum advokasi mahasiswa memunculkan pertanyaan mendasar: ke mana arah gerakan IMM Kota Ternate saat ini ?

Kritik ini perlu ditegaskan sejak awal sebagai kritik organisatoris, bukan kritik personal. Organisasi tidak diukur dari kelengkapan struktur maupun khidmatnya prosesi pelantikan, melainkan dari sejauh mana program kerja dijalankan dan dirasakan dampaknya. Dalam kajian organisasi kemahasiswaan, aktivitas intelektual dan kaderisasi merupakan indikator utama berfungsinya organisasi sebagai ruang pembelajaran kritis. Ketika agenda-agenda tersebut minim atau tidak berjalan, organisasi berada pada kondisi stagnasi dan berisiko kehilangan relevansinya.

Secara normatif, rapat kerja merupakan jantung perencanaan organisasi. Di sanalah visi diterjemahkan menjadi program, target, dan agenda yang terukur. Namun, ketika rapat kerja tidak diikuti oleh rangkaian kegiatan yang konsisten, persoalan yang muncul bukan semata teknis pelaksanaan, melainkan keseriusan kepemimpinan dalam menghidupkan organisasi. Dalam kondisi demikian, pelantikan dan rapat kerja berpotensi berhenti sebagai seremoni administratif, bukan sebagai awal konsolidasi gerakan.

Jika dibandingkan dengan periode kepengurusan sebelumnya, IMM Kota Ternate pernah menunjukkan ritme gerakan yang lebih hidup. Pada masa tersebut, organisasi relatif aktif menyelenggarakan diskusi, FGD, peringatan Milad Muhammadiyah, serta kegiatan kaderisasi intensif seperti penguatan ideologis dan forum pengembangan kapasitas kader. Perbandingan ini tidak dimaksudkan untuk mengultuskan masa lalu, melainkan untuk menegaskan bahwa IMM Kota Ternate memiliki modal pengalaman dan tradisi gerakan yang kuat. Ketika modal tersebut tidak dimanfaatkan, stagnasi bukan lagi soal keterbatasan, melainkan soal pilihan.

Absennya IMM Kota Ternate dalam diskursus publik lokal juga menjadi persoalan serius. Kota Ternate di hadapkan pada berbagai isu strategis, mulai dari pendidikan tinggi, kebijakan publik daerah, hingga persoalan sosial kemasyarakatan. Dalam konteks Cipayung Plus, organisasi mahasiswa seharusnya hadir sebagai mitra kritis dan agen perubahan sosial. Ketika peran tersebut tidak dijalankan, maka IMM kehilangan salah satu fungsi historisnya.
Dari sudut pandang manajemen organisasi, kondisi ini mencerminkan lemahnya tata kelola program. Tidak adanya kalender gerakan yang jelas, minimnya publikasi kegiatan intelektual, serta absennya evaluasi program menunjukkan bahwa mesin organisasi belum digerakkan secara optimal.

Padahal, agenda sederhana namun rutin seperti diskusi bulanan, kajian ideologis kader, atau forum respons isu lokal cukup untuk menjaga denyut organisasi tetap hidup.

Oleh karena itu, kritik ini harus dibaca sebagai peringatan dini. PC IMM Kota Ternate berada di persimpangan, terus bertahan dalam sunyi aktivitas, atau segera melakukan pembenahan serius. Langkah minimal yang perlu ditempuh adalah menyusun kalender gerakan yang realistis, mengaktifkan ruang diskursus intelektual, memperkuat kaderisasi ideologis, serta hadir dalam isu-isu lokal yang relevan.

Pada akhirnya, IMM tidak diukur dari siapa ketua umumnya, melainkan dari sejauh mana kepengurusan mampu menghidupkan nilai, gagasan, dan gerakan.

Jika IMM Kota Ternate ingin tetap relevan dan bermakna di mata mahasiswa dan publik, maka diam bukanlah pilihan. Sebab, dalam sejarah gerakan mahasiswa, organisasi yang berhenti bergerak pada hakikatnya sedang berjalan menuju kemunduran. (*)