Oleh: Rahmat Umarama

Jurusan Sosiologi FISIP UMMU dan Pegiat PILAS Institute

______________

DI semenanjung jazirah tertua, kokokan ayam menjadi lonceng bagi para petani, isyarat bahwa waktu pagi hampir tiba, bangunlah tuan waktu istirahat sudah selesai. Para petani mulai bergegas bangun, menyiapkan segala perlengkapan untuk pergi ke kebun, melanjutkan aktivitas menanam berbagai macam jenis makanan untuk mengganjal perut, untuk bertahan hidup dan kebutuhan sekolah anak. Perjalanan itu ditemani dengan sebuah parang seakan menulis di setiap langkah serta aktivitas keseharian mereka di waktu pagi dan petang, dan sebuah saloi yang menjadi harapan pulang dengan membawa hasil untuk dimakan.

Namun pada suatu hari, mereka dikagetkan dengan suara mesin seakan meruntuhkan bumi. Mereka terkejut karena bumi mereka telah ditelanjangi tak berpakaian. Keperawanan bumi dirampas korporat tanpa kasihan, bumi dirobek, seakan kehormatan seorang pelacur lebih mulia. Oh, mereka adalah kaum pemilik modal yang haus akan kekayaan dan kecantikan gadis kami, demi sebuah kehormatan dan untuk memperkaya diri mereka merobek-robek bagian tubuh bumi menggunakan alat canggih (ekskavator), sehingga bumi tidak lagi mengeluarkan darah yang jernih, nafas bumi telah terinfeksi. Intuisi licik iblis kapitalis peruntuhkan kedaulatan. Pertiwi dipanti-jompokan, dicurangi, dikikis dagingnya diberi makan rabies berdarah dingin, Djong Wan Ter.

Kapitalis adalah kaum yang haus akan darah dan mutiara rakyat. Rakyat diam, merenungi hasil tanaman mereka hilang ditimbun tanah. Masyarakat melawan untuk membela hak mereka, namun para tikus berdasi dilindungi oleh oknum penjilat jahat. Sebagaimana yang diungkapkan Marx dalam Teori Sosisologi (2014:30), menggambarkan bahwa kapitalis sebagai “pengisap darah” dan “serigala jadi-jadian”.

Hari ini warga pribumi menjadi budak di tanah sendiri, mereka dipaksa kerja dengan upah yang murah hanya untuk memperkaya kapitalisme. Namun dibalik itu, banyak anak pribumi yang menjadikan tanah air mereka sebagai perempuan pelacur, diserahkan kepada investor hanya menggunakan sistem barter. Permainan unik itu sangat disukai korporat dan elit kapitalis yang berlidah tebal bermuka tikus yang selalu dilindungi Negara penjajah. Seperti yang diungkapkan Jenderal Soedirman, kejahatan akan menang, jika orang benar tidak melakukan apa-apa.

Hari ini sejarah membuktikan bahwa, banyak dari kalangan aktivis sampai dengan dosen mereka melakukan kerja sama dengan korporat demi memperkaya diri. Apakah uang itu jahat? Sehingga demi uang Negara menindas rakyatnya sendiri. Uang adalah simbol kekuasaan, karena uang manusia bisa dipandang, dengan uang manusia bisa menjadi penguasa zalim. Sehingga ketidakadilan merampas hak masyarakat bawah. Marx mengungkapkan rahasia kapitalisme adalah bahwa kekuatan-kekuatan politisi telah diubah menjadi ekonomi, (Teori Sosiologi, 2014:58).

Masih teringat ungkapan Prabowo sebelum menjadi Presiden? “Sebelum saya meninggal saya ingin melihat Indonesia menjadi Negara bermartabat, Negara terhormat, saya ingin lihat tidak ada kemiskinan di republik Indonesia”. Apakah hal itu sudah dipenuhi? Omong kosong, begitulah janji orang munafik. Mengingat perkataan Sayyidina Umar bahwa suatu negeri akan hancur meskipun dia makmur, mereka bertanya: bagaimana suatu negeri bisa hancur padahal dia makmur? Umar menjawab, jika pengkhianat menjadi petinggi dan harta dikuasai orang-orang fasik.

Ketimpangan ekonomi bahkan kemiskinan yang diciptakan oleh sistem, dengan alasan akan terjadinya inflasi. Kapitalisme akan melakukan dengan segala cara untuk mendapat upah yang besar, karena mereka telah membeli para pekerja melalui gaji.

“Perjuanganku lebih mudah karena melawan penjajah, tapi perjuanganmu lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri”. (Ir. Soekarno)

Kritik itu sebuah seni estetik yang harus disampaikan. Sebab ia adalah perasaan dari jiwa dan pikiran, (Rahmat Umarama). (*)